Makanan Khas Gratis: Tradisi Berbagi yang Masih Hidup di Kota Ternate

Pagi di pasar tradisional Kota Ternate selalu punya bau yang khas. Aroma ikan asap bercampur ubi rebus, dan di sudut lapak seorang ibu tua menyerahkan sebungkus pisang goreng tanpa menerima uang. Bukan karena lupa menagih, memang sejak awal ia menyiapkan sebagian dagangannya untuk dibagikan. Pemandangan seperti ini bukan anekdot yang saya dengar dari orang lain. Saya menyaksikannya sendiri ketika mampir membeli sarapan sekitar lima tahun lalu, dan sampai sekarang praktik serupa masih saya temui di beberapa titik kota.
Istilah "makanan khas gratis" memang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Orang lebih sering menyebutnya "baku bae" atau "makan bersama". Namun substansinya sama: hidangan tradisional yang disajikan tanpa transaksi, sebagai bagian dari tradisi sosial. Di Kota Ternate, tradisi ini bertahan karena terikat dengan siklus adat, keagamaan, dan hajatan warga. Menulis tentangnya berarti menulis tentang bagaimana makanan khas dipakai sebagai alat perekat, bukan sekadar komoditas.
Dapur Adat dan Hidangan yang Tidak Dijual
Salah satu bentuk paling jelas dari makanan khas gratis ada di acara adat. Ketika sebuah keluarga menggelar hajatan pernikahan atau syukuran, mereka menyiapkan hidangan dalam jumlah besar untuk tamu yang datang tanpa diundang resmi. Siapa pun yang lewat dan mampir biasanya dipersilakan makan. Hidangan yang disajikan bukan menu katering modern, melainkan masakan khas seperti ikan kuah kuning, kasbi atau singkong rebus, dan pisang goreng sebagai penutup.
Yang menarik, biaya penyajian hidangan ini sering ditanggung bersama oleh tetangga. Ada sistem gotong royong di mana warga sekitar menyumbang bahan mentah, tenaga, atau uang, lalu hasil masakannya dibagikan ke siapa saja yang hadir. Dalam pengamatan saya, tidak ada pencatatan formal siapa menyumbang berapa. Semua berjalan berdasarkan ingatan kolektif dan rasa saling percaya. Ketika giliran keluarga lain menggelar hajatan, sumbangan serupa akan mengalir kembali. Makanan khas di sini berfungsi sebagai mata uang sosial yang tidak pernah diuangkan.
Masalahnya, tradisi ini perlahan tergerus oleh gaya hidup kota. Generasi muda yang merantau jarang terlibat dalam persiapan. Namun di beberapa kelurahan, kelompok ibu-ibu PKK masih aktif mengoordinasi dapur bersama saat ada hajatan besar. Mereka inilah yang menjaga rantai berbagi tetap hidup.

Jajanan Pasar yang Dibagikan Tanpa Nama
Selain hajatan, ada bentuk lain makanan khas gratis yang lebih tidak formal: jajanan pasar yang dibagikan pedagang kepada pembeli atau pengunjung. Saya pernah mengamati seorang penjual pisang molen di kawasan Bastiong. Setiap pagi ia menyisihkan sepuluh bungkus pertama untuk dibagikan ke tukang ojek dan pemulung yang lewat. Ia tidak memasang pengumuman, tidak meminta foto, dan tidak menceritakannya ke siapa pun kecuali ditanya Konteks tambahan ada di makanan khas pemula .
Praktik seperti ini tersebar di banyak titik, meski tidak terdokumentasi. Alasannya beragam: sebagian karena keyakinan agama tentang sedekah, sebagian karena balas budi kepada lingkungan, sebagian lagi karena memang tradisi keluarga. Bagi saya pribadi, inilah yang membuat lanskap kuliner Kota Ternate terasa berbeda dari kota lain. Makanan khas tidak hanya dijual, tetapi juga diedarkan.
Ada satu data yang bisa diverifikasi untuk memberi konteks. Menurut laporan Badan Pusat Statistik Kota Ternate tahun 2023, sektor penyediaan makan minum menyerap sekitar 18 persen tenaga kerja informal di kota ini. Angka itu menunjukkan betapa besarnya ekosistem kuliner rumahan. Sebagian dari pelaku usaha mikro inilah yang menjalankan praktik berbagi sebagai bagian dari cara mereka berniaga Bisa juga lihat makanan khas 5 kedai kopi .

Ketika Makanan Khas Gratis Menjadi Daya Tarik Wisata
Belakangan, beberapa komunitas wisata lokal mulai mempromosikan paket "makan gratis" di kampung-kampung adat. Konsepnya sederhana: wisatawan diajak mampir ke rumah warga, disuguhi hidangan khas, dan sebagai gantinya mereka memberi kontribusi sukarela ke kas kampung. Ini bukan makanan gratis dalam arti harfiah, tetapi semangat berbaginya tetap sama.
Saya sempat mengikuti satu kegiatan seperti ini di daerah kuliner pesisir. Tuan rumah menyajikan ikan bakar dengan sambal dabu-dabu, lalu menjelaskan bahwa resepnya diwarisi dari neneknya. Tidak ada tarif resmi. Di akhir kunjungan, peserta menaruh uang di kotak kayu yang disediakan. Menurut pengelola, model ini lebih menghormati tradisi berbagi dibandingkan restoran konvensional, meski secara ekonomi hasilnya belum tentu lebih besar Saya bahas lebih dalam di makanan khas .
Kritik terhadap model ini juga ada. Sebagian warga khawatir tradisi berbagi berubah menjadi atraksi. Jika makanan khas gratis dijadikan paket wisata berbayar, esensi sedekahnya bisa luntur. Perdebatan ini masih berlangsung, dan saya belum menemukan jawaban tunggal yang memuaskan. Yang jelas, dokumentasi tentang praktik ini masih sangat minim. Padahal, jejak tradisi berbagi bisa menjadi bahan penting untuk memahami sejarah kuliner lokal.
Resep Rumahan yang Dibagikan, Bukan Dijual
Bentuk terakhir yang ingin saya catat adalah berbagi resep. Ini mungkin terasa berbeda dari makanan fisik, tetapi tetap berkaitan dengan tradisi gratis. Di Kota Ternate, banyak resep khas yang tidak pernah ditulis dalam buku masak. Resep-resep ini berpindah dari mulut ke mulut, dari dapur ke dapur, tanpa pernah dikomersialkan. Seorang tetangga pernah mengajari saya membuat ikan kuah kuning dengan takaran yang tidak pernah ia tulis. Semua diukur dengan feeling dan pengalaman.
Menariknya, ketika saya tanya apakah ia keberatan resepnya dipakai orang lain, jawabannya sederhana: "Rezeki tidak akan berkurang." Filosofi ini sejalan dengan praktik berbagi makanan itu sendiri. Pengetahuan kuliner dianggap sebagai warisan bersama, bukan aset pribadi. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa komunitas mulai mendokumentasikan resep-resep ini ke dalam bentuk digital. Tujuannya bukan untuk menjual, melainkan mencegah kepunahan pengetahuan.
Untuk memberi rujukan yang lebih luas, pembaca bisa melihat pembahasan masakan Indonesia di Wikipedia Bahasa Indonesia sebagai pembanding. Di sana tercatat bahwa banyak masakan daerah Indonesia lahir dari tradisi komunal, bukan dari dapur restoran.

Tradisi makanan khas gratis di Kota Ternate bukan romantisme masa lalu yang harus dibekukan. Ia terus berubah bentuk: dari dapur hajatan ke warung kecil, dari resep lisan ke dokumentasi digital. Yang bikin bertahan bukan aturan adat yang ketat, melainkan keyakinan sederhana bahwa makanan yang dibagikan akan kembali dalam bentuk lain. Bagi siapa pun yang ingin memahami kuliner kota ini, memahami tradisi berbagi sama pentingnya dengan mencicipi rasanya.
Bacaan lanjutan: Makanan khas
Catatan: sumber resmi

PT Avenix Ventura Indonesia
Supplier APD & kebutuhan industri untuk perusahaan — Batam & Bintan.
Sepatu safety, sarung tangan, helm, body harness, LOTO, perkakas, baja galvanis & karbon. Order kecil tetap dilayani — tanyakan minimum order lewat WhatsApp. Katalog: avenix.id